<a href=http://zawa.blogsome.com>Zawa Clocks</a>

Jumat, 24 Februari 2012

THINK OBJECTIVELY


Beberapa orang beranggapan bahwa perasaan - perasaan yang kadang terlintas dalam pikiran mereka dianggap benar oleh pikiran mereka, pola pikiran mereka masih mengedapankan ego pribadi mereka, pikiran yang terlintas dalam kepala manusia jika selalu dianggap kebenaran oleh pemilik pikiran itu, maka berarti telah mengalami kebodohan mental dalam dirinya. Ego manusia selalu ingin membenarkan pendapatnya dan ini jelas akan berpengaruh terhadap cara berpikir manusia.

Ketika manusia mulai menyadari bahwa perasaan - perasaannya sering tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, maka hatinya akan mengarahkan logika, dan akan mulai menyadari pikiran yang berupa ilusis, dan pikiran hanyalah pikiran, yang kadang dapat membantu, namun juga dapat membuat kita terjebak dalam permainan pikiran, sehingga apa yang kita lakukan sering tidak tepat.

Permainan pikiran juga menyebabkan manusia sering menebak-nebak sesuatu termasuk menebak perasaan dan pikiran orang lain, bahkan seseorang yang sudah terperangkap oleh pikiran ilusifnya sendiri bisa mengganggap diri mereka memiliki indra keenam dan merasa sok tahu atas semuanya termasuk urusan orang lain.

Manusia jarang yang bisa membedakan mana yang intuisi murni dengan mana yang ilusif yang berasal dari permainan pikiran serta permainanan perasaan, kenyataannya banyak manusia salah dalam melakukan tebakan termasuk dalam apa yang mereka impikan, hal ini mungkin karena dominasi ego serta keinginan selalu mendominasi pikiran manusia, sehingga mereka tidak bisa berpikir secara obyektif untuk melihat oleh kenyataan dan logika yang ada, sebagian besar manusia lebih tersugesti oleh pikiran ilusif mereka sehingga apa yang dilakukannya sering tidak tepat bahkan ketika mereka sadar tentang kenyataan semuannya sudah terlambat dan tetap berbeda jika harus mulai dari awal lagi.

Jika manusia sudah bisa memperhatikan pikirannya sendiri, maka ia akan mulai menyadari bahwa selama ini ia sering terhanyut oleh permainan pikirannya sendiri yang bersifat ilusif, pikiran yang bersifat keinginan dan ego sering muncul dan pergi tanpa mudah dikontrol, belum lagi impian - impian yang dapat menghalangi manusia dari objektifitas pikiran yang logis, yang sesuai dengan fakta yang ada, ini memang tidak mudah, harus ada intelejensia yang tinggi atau bantuan dari orang lain agar pikiran dapat lebih obyektif.

Pikran ilusif manusia menyebabkan mereka ingin mendapat sanjungan dari apa yang mereka lakukan atau yang masih mereka impikan, keinginan ingin dianggap sebagai pahlawan, keinginan ingin paling disegani, bahkan keinginan ingin paling dicintai banyak dialami oleh ego manusia, bahkan sekelompok pemuda yang berkumpul sering ada keinginan - keinginan agar mereka berwajah paling cantik atau paling tampan diantara teman - temannya, tujuannya agar mereka mendapat simpati yang lebih diantara yang lainnya, bahkan banyak manusia yang ingin dianggap dirinya penting oleh kelompoknya agar mereka memperoleh popularitas yang berlebih.

Hal ini dapatlah dimaklumi, karena pikiran selalu ingin mengedepankan identitasnya, tapi sayangnya beberapa manusia menjadi egoistis dan tidak menyadari bahwa dirinya telah terjebak dalam permainan pikirannya, bahkan mungkin sering lupa bahwa selama ini anggapannya sering tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.

Berpikir secara obyektif akan membuat pengambilan keputusan lebih tepat termasuk dalam perencanaan sesuatu.

Membebaskan diri kita dari belenggu berbagai macam keinginan serta impian akan membuat pikiran kita lebih ringan, namun sekali lagi ini tidak mudah karena selama ini kita sudah biasa terikat dengan apa yang kita harapkan, bukan berarti pula menghentikan aktifitas kita atau meniadakan rencana, kita haruslah tetap berkarya, mungkin sesuai yang dengan sudah kita rencanakan, tetapi jangan terikat pada sesuatu yang kita harapkan, karena pada dasarnya keinginan itu selalu datang dan pergi tanpa pernah disadari.

Kesalahan sekaligus kelemahan yang sering terjadi pada manusia adalah menganggap benar anggapannya sendiri yang sebenarnya muncul dari perasaan dan pikirannya sendiri, terlebih lagi jika seseorang tidak mau melakukan penelitian tentang apa yang diprasangkanya itu, paling tidak belajar untuk melihat fakta serta kenyataan adalah hal terbaik untuk menjalani hidup, manusia yang sudah terbiasa terpaku pada impian - impiannya harus belajar hidup dalam kekinian, belajar berfikir secara obyektif berdasarkan fakta dan logika yang masuk akal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar